JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kisah Bermakna

Ukuran Kesederhanaan

AddThis Social Bookmark Button

Selama beberapa tahun, masa remaja saya dihabiskan di sebuah asrama. Namanya saja asrama, semua hal menjadi seperti seragam. Mulai dari kegiatan, peraturan, masalah yang dihadapi setiap hari, baju dan kaos (yang sama-sama sederhana dan bertuliskan nama), hingga sampai makanan dan minuman. Hal terakhir inilah yang kadang membuat saya tersenyum. Sebenarnya dari kecil saya tidak mempersoalkan makanan apa yang harus dimakan. Pokoknya apa yang ada ya dimakan. Jika sedang tidak berselera, ya tidak makan. Simpel…. Tidak ada nasi, ubi pun oke. Jika ada nasi tetapi sudah kotor oleh kaki-kaki tikus karena semalaman dibongkar tikus, ya makan saja, tinggal dibuang saja bagian yang kotor. Karena sudah terbiasa seperti itu, saya menjadi tidak kaget saat di asrama harus makan nasi yang banyak hewannya. Tidak tahu itu kutu atau serangga. Cuma sepertinya kutu, tetapi yang super karena badannya yang besar. Mungkin kutunya fitness harian…. J Setiap makan, saya lahap seperti biasa (biar pun badan super langsing saat itu). Kalau cuma kutu, dah biasa dari kecil (karena dulu sering makan beras kupon / beras jatah dari pemerintah). Hanya ukurannya saja yang berbeda. Lagian masih lebih bersih, yang dulu kan masih ditambah cap kaki tikus atau kecoa….hehehhe.

Secara pribadi, saya tidak menganggap bahwa apa yang saya makan saat itu adalah sangat sederhana. Tidak tahu bagi teman-teman saya yang punya latar belakang ekonomi keluarga yang lebih ya…. Hanya, setelah berjalan setahun dua tahun, mulai ada yang kami perhatikan.

Ternyata menu kami (para remaja penghuni asrama) berbeda dengan menu para Pembina. Entah dari aspek kuantitasnya, atau terlebih pada kualitas rasa dan kandungan gizinya. Biar pun sama-sama nasi goreng, tetapi beda rasanya. Ini kami ketahui saat jatah nasi goreng untuk kami kurang sehingga sebagian diberi nasi goreng yang seharusnya buat para pembina. Sungguh nikmat sekali rasanya saat itu….. Saya yang awalnya bisa menikmati apa pun yang disediakan, mulai sedikit terpengaruh. Saat mengobrol di waktu istirahat, mulai ada perbincangan tentang perbedaan menu. Di mata kami yang masih remaja, kami merasa ketidakadilan. “Ahh…. Enak sekali mereka ya, bisa makan enak tiap hari!” Saya pun tergoda untuk melihat kekurangan menu sehari-hari. Nasi berkutu, plus lauk tahu kurang bumbu, atau tempe kotak yang kadang belum matang bagian tengahnya, telur dadar yang hanya putihnya, dan lauk kebanggaan yang selalu ditunggu: daging yang sebetulnya lebih banyak lemaknya, terkadang masih tersisa rambut-rambut halus. Saya menjadi melihat itu semua berkekurangan…. Jika sudah seperti itu, maka makan pun menjadi tidak lahap dan nikmat lagi. Lupa bahwa sebetulnya itu lebih dari cukup bagi saya, terlebih bagi saya yang tidak bisa membayar semua itu. Saya kan mendapat subsidi silang…. Nah, saya menjadi lupa melihat siapa diri saya sesungguhnya, lupa untuk bersyukur.

 

Itu pemahaman saya dulu, saat saya masih remaja. Saya menilai para pengelola asrama dan Pembina tidak adil. Saya menilai makanan saya tidak enak. Saya menjadi berani menilai dan menghakimi orang lain dan keadaan. Yang jelas, yang terlihat di mata saya adalah orang lain atau lingkungan. Saya menjadi lupa melihat ke dalam diri saya pribadi. Ahhh… Mereka mengajarkan saya untuk hidup sederhana, tetapi mereka tidak sederhana! Ini kan namanya munafik! Hmmmm…. Itulah kesimpulan saya dan beberapa teman saat itu.

 

Yang namanya menilai, bahkan menghakimi orang lain dan keadaan, pasti salah dan tidak obyektif. Tidak obyektif karena jika menghakimi maka kita cenderung melihat dari kaca mata kita. Salah karena memang tidak perlu dan tidak ada yang berhak menghakimi orang lain. Apa pun hasilnya, yang rugi adalah orang lain, terlebih diri kita sendiri.  Seperti pengalaman saya di atas. Karena menghakimi, saya menjadi tidak bisa menikmati (apalagi untuk bersyukur) makanan yang sebetulnya enak, saya pun menjadi kurang respek dengan Pembina yang sebetulnya tidak bersalah apa pun ke saya. Terlebih, betulkah bahwa mereka munafik dan tidak sederhana?

 

Beberapa bulan ini saya ikut memberi makan seekor anjing milik tetangga. Karena sering memberinya makan, maka Blacky pun seperti punya dua rumah. Salah satunya adalah rumah saya. Saya menganggap Blacky seperti saya, yang perlu sarapan, makan siang, dan makan malam. Hanya karena saat siang saya kerja di kantor dan di rumah tidak ada siapa-siapa, maka setiap bangun pagi saya merasa harus dan wajib menyediakan dia makanan. Kasihan kan sampai sore tidak makan. Begitu pulang kerja sekitar jam 5 sore, yang saya pikirkan adalah saya harus cepat-cepat membuatkannya makanan, biar pun saya sendiri lapar. Di setiap awal bulan, mungkin saya masih sesekali membeli sop iga di warung sehingga tulangnya bisa untuk dia. Rupanya itu sangat cocok dan nikmat bagi Blacky. Hanya di akhir bulan (atau saat saya malas untuk keluar), kadang yang tersisa di lemari hanyalah telur. Nah di sinilah mulai ada masalah. Beberapa kali Blacky saya buatkan nasi dicampur telur dadar atau telur rebus masih mau makan. Untuk dia, kadang saya memilih tidak berlaukan telur atau apa pun. Hanya kemudian saya menjadi sempat marah saat dia tidak mau memakannya suatu saat. Telur tinggal satu, dan saya mengalah. Lebih baik untuk Blacky…. Eh ternyata malah tidak dimakan. Spontan saya dongkol. Saya saja makan cuma sama garam, eh dia saya kasih nasi telur malah tidak mau… Dasar ga tahu diri! Hehehehe.

 

Saya menjadi geli memikirkan kedongkolan hati saya. Karena saat itu, berarti pikiran dan pemahaman saya kembali ke masa remaja saya. Saya melihat Blacky dari kaca mata saya. Menurut saya harusnya dia mau makan sama telur, dan tahu berterima kasih kepada tuannya yang rela mengalah tidak makan telur. Nah…. Itu kan menurut saya. Padahal Blacky kan hanya seekor anjing (yang punya sedikit darah turunan ras) yang seharusnya makan daging tiap hari. Masih beruntung dia mau sedikit-sedikit makan telur. Yang tidak tahu diri berarti ya tuannya. Memaksakan anjing untuk makan sesuatu yang sebetulnya tidak cocok untuknya. Dalam hal ini, apakah anjing saya bisa dikatakan tidak sederhana? Dan saya bisa dikatakan sederhana dan adil? Yaaa…. Saya bisa hanya makan nasi saja. Blacky tidak bisa. Dia harus makan daging…. Terus siapa yang tidak tepat jika demikian?

 

Semuanya memang serba relative.  Ini yang mungkin kadang kita lupakan. Sederhana di mata kita, belum tentu sederhana di mata orang lain. Mewah di mata kita, belum tentu di mata orang lain. Segala sesuatu sudah tepat sebetulnya, sesuai peruntukkannya, sesuai situasi dan kondisi. Hanya kadang kita memaksakan diri, repotnya juga kadang memaksa orang lain (bisa rekan kerja, bawahan, suami/istri, bahkan anak kita) untuk bersikap sederhana sesuai pandangan kita. Saya dulu bisa hidup dan nyaman saja perasaannya saat makan nasi berkutu….. Lalu apakah saya akan tepat berkata kepada anak saya: “ Ayo dimakan saja nasi berkutunya…. Bapak dulu juga begitu kok…” Tentu tidak bukan? Masa dan lingkungannya saja sudah berbeda..…. Sederhana adalah sikap hidup pribadi kita masing-masing. Jika untuk orang lain, harusnya kita berikan yang terbaik….(Set)

 

Add comment


Security code
Refresh