JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kisah Bermakna

Semua Berlebih

AddThis Social Bookmark Button

“Ingin didoakan apa Bu?”

“Ahhh….. Saya hanya berdoa, semoga semua lengkap, itu sudah cukup untuk membuat saya bersyukur dan bahagia. Tidak masalah diberi perempuan atau laki-laki…. “ Itu adalah kata temanku yang sedang berada di rumah sakit ibu dan anak, menunggu kelahiran calon bayinya. Beberapa kali mengobrol dengan calon ibu yang hendak melahirkan, tidak peduli anak pertama atau sudah yang kesekian kalinya, tetap saja mereka mohon ke Tuhan agar diberi bayi yang utuh secara jasmani. Lengkap anggota tubuhnya. Biar pun di awalnya mereka khusus memohon agar dikaruniai anak laki-laki atau perempuan kalau bisa, tetapi menjelang kelahiran menjadi berubah, yang penting bayinya nanti lahir dalam keadaan sehat, normal, dan utuh fisiknya. Begitu lahir, biasanya ibunya akan segera minta ijin melihat sang bayi. Bukan pengen tahu jenis kelaminnya, tetapi melihat kelengkapan fisiknya. Begitu yakin sudah lengkap, baru bisa bernafas lega. Segala rasa sakit selama melahirkan terasa hilang. Lega….

 

Saya sendiri menjadi berpikir, berarti saya, Anda juga, dahulu juga dilahirkan dalam kondisi dan suasana yang tidak jauh berbeda. Dilingkupi pengharapan, sekaligus kecemasan dan kekuatiran dari orang tua kita. Begitu kita terlahir utuh, atau pun ada kekurangan sedikit, itu melegakan orang tua kita. Dan sebagian besar dari kita beruntung dilahirkan dalam kondisi ‘sempurna’. Jika dulu semasa bayi, tentu kita belum bisa merasakan kegembiraan dan kebahagiaan orang-orang terdekat atas kehadiran kita.

Saya pribadi meyakini bahwa pasti ada suasana kegembiraan atas kelahiran kita di duia ini. Bahkan jika pun ada yang tidak mengharapkan (misalnya karena kehadiran kita tidak sesuai perencanaan), saya yakin saat menjelang dan dalam proses melahirkan, ada seseorang yang bergembira atas kehadiran kita. Entah ibu kita (yang tentunya pasti dikaruniai naluri keibuan), ayah kita, kakak adik kita, tetangga, bidan dan dokter, dan sebagainya. Dan jika pun kita tidak tahu siapa yang gembira atas keberadaan kita awalnya, pasti ada Dia yang gembira menghadirkan kita di dunia. Ini yang mungkin terlupa oleh beberapa dari kita. Kita dilahirkan karena sebuah tujuan….

Masalahnya, setelah kita beranjak remaja dan dewasa, kita jarang melihat kembali ke masa kecil kita. Atau mungkin tidak pernah terpikirkan untuk sekali-kali bertanya ke orang tua kita, bagaimana keadaan dulu saat kita bayi. Kita cenderung hanya melihat keadaan saat kini. Dan jika hanya melihat keadaan sekarang, yang ada hanyalah keinginan untuk membandingkan diri dengan orang lain. Karena hampir sebagian besar orang dilahirkan dalam keadaan utuh, kita pun menjadi kurang memaknai berkah yang ada lewat tubuh kita. Kita merasa wajar dan sudah seharusnya bahwa kita punya 2 tangan, 2 kaki, 2 mata, satu hidung, satu mulut, 2 telinga, dan lain-lain. Toh tidak ada yang istimewa, kan orang lain juga seperti itu? Perbandingannya menjadi, ah… Mengapa hidungku tidak semancung dia ya? Mengapa aku harus memiliki bentuk wajah yang kotak seperti ayahku? Mengapa kulitku gelap seperti kulit ibuku seh? Mengapa tidak seputih kulit temanku? Mengapa rambutku keriting, tidak lurus seperti yang diiklankan di TV? Dan tentunya masih banyak pertanyaan atau pernyataan yang intinya bernada ketidakpuasan terhadap keberadaan diri kita sendiri. Atau bisa juga, bagi yang fisiknya relative lebih dibandingkan orang lain, kurang bisa menyadarinya sebagai anugerah.

Setelah dewasa, sudah selayaknya kita selalu bersyukur atas segala rahmat yang melekat dalam diri kita. Saya sendiri sering melupakan hal ini. Dalam setiap doa, kita cenderung memohon sesuatu kepadaNya. Terkadang lupa bahwa sudah begitu banyak yang diberikanNya kepada diri kita sehingga kita lupa untuk bersyukur. Padahal untuk hal kecil lainnya kita tidak lupa. Kita terbiasa berucap terima kasih saat kita dipinjami bolpen oleh rekan, kita selalu bilang terima kasih saat menutup pembiacaraan saat bertelepon, kita juga selalu berterima kasih atas hal-hal kecil dalam ber-relasi dengan orang lain. Tetapi, kita sering lupa berterima kasih kepadaNya untuk hal-hal besar yang sudah diberikan dilakukan dalam hidup kita, sedari kita mulai dibentuk dalam rahim ibu kita, selamat dalam proses kelahiran, dan besar hingga saat kini.

Beberapa saat yang lalu, saya berkesempatan mengetahui kesedihan dan kesepian seorang wanita. Usianya sudah menginjak 20-an tahun. Dilahirkan dalam kondisi yang kurang beruntung (tidak punya tangan dan kaki), di tengah keluarga yang bukan berkecukupan, ditambah lagi harus hadir di dunia yang era teknologi seperti sekarang ini. Sebagai seorang wanita yang mempunyai perasaan, dia juga ingin merasakan segala keindahan, keriangan, dan cerahnya dunia seperti wanita sebayanya.

Jika dulu saat remaja dia mampu menahan gejolak ingin berpacaran dan merasakan indahnya cinta, kini di usia yang sudah cukup, dia sangat ingin seperti teman sebayanya. Dia ingin menikah…. Tetapi apalah daya. Dengan kondisi fisik seperti itu, relasinya sangat terbatas. Lelaki yang dikenal pun mungkin hanya ayah, kakak adik, atau saudara-saudaranya. Saking inginnya merasakan seperti yang lain, dia pun mencoba melalui teknologi, yakni facebook. Mencoba mengenal beberapa laki-laki, dengan foto diri yang diusahakan bagus. Tetapi setelah bertemu langsung, akhirnya yang didapatkan hingga kini justru rasa pahit. Saya mengetahui hal itu ikut terhenyak….. Coba saya yang harus menjadi dia, bagaimana perasaan saya ya?

Sungguh berat beban yang harus ditanggung wanita itu. Bukan bermaksud mengumbar dan memanfaatkan kelemahan saudara-saudara kita yang keadaannya kurang beruntung disbanding orang pada umumnya, tetapi kita patut untuk menengok diri kita masing-masing secara obyektif, menyadari keberadaan diri secara seutuhnya, merenung, dan selalu mensyukurinya. Mensyukuri berarti mengembangkan apa yang kita miliki untuk kebaikan diri dan orang lain, karena memang itulah tujuan dari keberadaan kita. Kita semua sejatinya diberi modal dan kelebihan sesuai jatah kita. Kita semua berlebih…. Hanya kita sudah menyadarinya atau belum.

Kita yakin bahwa apa yang ada dalam diri kita diciptakan olehNya untuk kebaikan. Kita punya tangan agar bisa meraih orang lain yang terpeleset, kita punya 2 kaki agar bisa menopang kita berbuat baik, kita punya mulut agar bisa berucap kata-kata yang membuat nyaman dan membangun, kita punya mata agar bisa melihat dan memancarkan hawa kesejukan, kita punya telinga agar bisa mendengar suara-suara kebaikan melalui kata-kata orang lain, kita punya hati agar bisa berempati kepada orang lain, dan kita punya wujud secitra denganNya agar bisa berpikir, bersikap, bertingkah laku seturut ajaranNya….. Semoga. (Set)

Add comment


Security code
Refresh