JALAN BAHAGIA
Kumpulan renungan, refleksi, kisah bermakna dan inspiratif, serta cerita pergulatan hidup sehari-hari

Website counter
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Software

Kisah Bermakna

Masih Banyak Orang Baik

AddThis Social Bookmark Button

Dulu waktu saya masih kecil dan tinggal di desa, saya terbiasa hidup tenang. Tidak ada pikiran tentang orang jahat dan sebagainya. Tahunya ya semua orang itu ramah, menjawab dengan senang hati saat ditanya, siap membantu saat diperlukan, bahkan biar pun tidak berkecukupan dalam hal materi, mereka biasanya senang hati memberikan apa yang dimiliki jika lebih dibutuhkan oleh tetangga. Kayu bakar misalnya, kita terbiasa mencarinya di kebun siapa pun. Tidak akan ada yang marah. Atau jika sedang bermain di sawah lalu merasa lapar, kita tinggal meminta mentimun atau apa pun ke sawah tetangga. Pasti dikasih, apalagi kalau hanya untuk memenuhi dahaga dan rasa lapar. Kami terbiasa menganggap semua orang baik adanya….. Kalau pun ada gesekan di antara kami, biasanya cepat terselesaikan. Jika pun berat permasalahannya, akhirnya semua maklum dengan kekurangan masing-masing. Paling-paling berujar: “Yahhh… dimaklumi saja. Mungkin memang seperti itu sifatnya. Kita yang belajar memahaminya….”

 

Sifat natural itu sepertinya mulai bergeser. Sekitar tahun 90-an, kalau tidak salah saat itu mulai bermunculan media televise swasta. Jika sebelumnya hanya ada TVRI, dimana kami terbiasa nonton berita perkembangan dalam negeri, atau berkumpul bersama untuk menonton ketoprak, setelah adanya stasiun swasta, banyak informasi lain yang bisa kami nikmati. Gesekan mulai sedikit muncul saat adanya perang teluk saat itu.

 

Karena ditayangkan oleh media televise, kami yang biasanya tidak berpikiran macam-macam, mulai diajak untuk menganalisis, kemudian mengambil kesimpulan. Padahal pemikiran kami sangat sederhana. Nah, celakanya banyak pengamat yang bicara, dan membuat kami bingung. Apalagi kemudian masalah perang teluk dibawa tidak hanya ke ranah ekonomi, kedaulatan, dll, tetapi juga diarahkan ke masalah agama dan keyakinan, nah mulailah ada rasa panas jika di antara kami mulai ada pro dan kontra. Itu hanya satu contoh. Rupanya kehadiran berita-berita sejenis, ditambah kemudian berita-berita tentang criminal, cukup mempengaruhi pola pikir banyak orang.

 

Setelah besar dan pindah ke kota, rupanya pengaruh berita-berita criminal yang ditayangkan oleh berbagai stasiun televisi di Indonesia ini cukup berpengaruh dalam pola pikir. Sebenarnya banyak nilai positifnya juga, hanya biasanya yang negatiflah yang lebih mudah diingat. Jika setiap hari disodori berita tentang kejahatan berupa penipuan, penjambretan, perampokkan, pemerkosaan, pembunuhan, tindakan korupsi, pertikaian dan perkelahian (yang tidak hanya melibatkan remaja dan anak sekolah, tetapi kini sering dipertontonkan oleh para tokoh masyarakat yang seharusnya menjadi contoh) dll, maka pola pikir penontonnya, dalam hal ini masyarakat, akan berpikir seperti itu juga. “Wahhh….. Berarti kita harus hati-hati jika bertemu orang. Awas jangan naik angkot, nanti banyak copetnya…. “, komentar senada itu sempat saya dengar dari tetangga. Kini para ibu juga was-was jika anaknya mau bermain ke tetangga sebelah, takut nanti diculik di jalan. Bahkan, ketakutan-ketakutan seperti itu juga hinggap ke semua orang, tidak hanya ke anak kecil, tetapi orang dewasa pun tidak luput.

Saya sendiri tidak luput dari rasa was-was saat mau bepergian jauh. Seakan kini semua orang boleh dianggap patut dicurigai. Saat mau naik bus atau kereta, saya harus menyimpan baik-baik barang yang agak ada harganya di tas. Kalau membawa uang, jangan diletakkan di kantong baju, soalnya gampang dicopet. Atau uang jangan disimpan di satu tempat saja, sediakan cadangan di berbagai kantong. HP harus sesekali dilihat, masih ditempatnya atau tidak, dll. Hati-hati saat mau turun kendaraan umum, jangan sampai berhimpitan, nanti kecopetan. Nah, repot lagi kalau jadi wanita kan? Banyak yang harus dipikirkan…..Segala kekuatiran dan ketakutan ini mungkin subyektif, tetapi sepertinya tidak hanya hinggap di diri saya. Saya yakin, bira pun dalam kadar berbeda, kita semua juga merasakannya. Bahkan kadang saya sampai males menonton berita televise…. Saking mualnya dengan berita criminal atau pertikaian.

 

Dalam kenyataannya, setelah sering keluar rumah, minimal sabtu minggu, pikiran negative seperti rasa was-was dan gampang curiga terhadap orang asing dan lingkungan baru sepertinya bisa terkikis. Beberapa kali saya seperti diberi kesempatan oleh Tuhan untuk melihat banyak kebaikan. Saat duduk di stasiun menunggu datangnya kereta, kebetulan saya melihat seorang anak berbaju lusuh dengan potongan rambut punk. Sekilas orang-orang yang didekatinya menyingkir, padahal dia hanya mendekati tong sampah. Tetapi ada seorang bapak yang tidak peduli dengan penampilannya. Dia bersikap biasa saja, malah kemudian mengabil uang dua ribuan dan memberikannya ke anak tersebut… Hmmmm, mau tidak mau saya pun memperhatikan tingkah anak tersebut. Setelah berterima kasih, dia menyeberang rel dan mendekati tong sampah di sana. Kebetulan dia melewati kursi tunggu dan melihat sesuatu dan langsung diambil. Mungkin karena masih ada isinya, dia perhatikan baik-baik dan kemudian mencari kira-kira siapa pemiliknya. Herannya, botol itu tidak dimasukkan ke kantongnya, tetapi dia memilih memberikannya ke dua orang yang duduk di situ, dan memang mereka pemiliknya. Tanpa menunggu ucapan terima kasih, anak tadi langsung pergi. Memang benar pepatah: Jangan hakimi dan nilai orang dari kulit/penampakan luarnya…..

 

Pada saat saya sudah berada di kereta dalam perjalanan pulang ke Bogor, saya pun berkesempatan kebajikan yang dilakukan orang. Seperti biasanya, saya menikmati perjalanan (biar pun kadang kereta penuk sesak dan minim oksigen) dengan mendengarkan music lewat headset. Di tengah perjalanan, di gerbong yang saya tempati, saya melihat petugas tiket memeriksa  tiket commuter line. Pada saat memeriksa tiket seorang ibu, rupanya ada perdebatan. Ibu itu merasa telah membeli tiket, cuma sepertinya tiket yang ia beli adalah tiket kereta ekonomi dan petugas menganggap tidak berlaku sehingga ibu itu harus membayar uang Rp 20 000. Ibu itu keberatan dan terjadilah tukar pendapat yang menarik perhatian orang-orang. Saat itu saya belum mengerti benar kejadiannya. Saat sudah akan semakin sengit, tiba-tiba ada seorang bapak yang duduk di bawah dekat pintu keluar memanggil petugas. Petugas pun mendatanginya, dan sejurus kemudian ada percakapan lirih. Entah apa yang diobrolkan, tetapi yang jelas kemudian bapak itu mengeluarkan uang lima puluhan ribu. Dan petugas itu pun segera berlalu. Orang-orang (termasuk saya) menjadi maklum bahwa baru saja bapak itu berbuat baik, membayar uang tiket untuk ibu itu, yang tentunya tidak ia kenal. Dan sesudah membayar, ia pun seakan biasa saja, tidak mengharap imbalan terima kasih atau tatapan simpati. Dia kembali ke aktivitasnya semula, membaca berita di HP-nya…. Bahkan, saat ibu yang ditolongnya tidak berucap terima kasih atau sekedar anggukan kepala pun, it’s ok…. Hmmmmm…… Entah mengapa saya menjadi tenteram dan bahagia melihatnya.

Setelah kejadian itu saya menjadi semangat. Dikala perjalanan hidup yang diwarnai rasa was-was dan rasa takut, saya seperti diberi kesegaran dan penyadaran. Masih banyak orang baik di luar sana. Masih banyak yang berhati mulia. Masih banyak orang yang ringan tangan mengulurkan bantuan ke siapa pun, dimanapun, dan saat apa pun. Yahh…. Masih banyak orang di luar sana yang memberi contoh.  Kita dilahirkan untuk kebaikan, mengapa harus membatasi diri untuk berbuat baik? Tidak perlu takut dan kawatir….. Kemanakah imanmu? Ahhh… Saya tersenyum kecut. Entah apa agama dan keyakinan bapak itu. Yang jelas, dialah contoh sebenarnya tentang iman yang sejati, iman yang berani mewartakan kebaikan kepada semua orang…. Terima kasih bapak, terima kasih Tuhan. Maafkan kami semua jika sangat kerdil. (Set)


Add comment


Security code
Refresh